√ 11 Model Kebaya Kutu Baru Anne Avantie

Kebaya Kutu Baru – Satu kesan kharisma yang bisa mewakili rasa kagum Anda pada jenis kebaya ini: kebersahajaan yang mempesona. Ya, kebaya kutu baru adalah inspirasi yang akan menggugah Anda untuk segera terjun ke dalam dunia rancangan kebaya modern.

Bentuknya yang khas, memiliki gier / bef / kutu baru (lapisan tengah berbentuk segi empat di muka kebaya) sangat memancing gejolak kreativitas. Mata imajinasi Anda khususnya yang bergelut sebagai pendesainer akan langsung membayangkan berbagai sentuhan yang bisa diterapkan pada kebaya model ini.

Biasanya kebaya kutu baru berkolaborasi dengan korset, long torso, atau komisol. Dengan kancing pengait yang terbuat dari benang (kutu baru), ciri klasik kebaya ini menyiratkan keanggunan hakiki seorang perempuan.

Kebaya kutu baru memiliki nilai sejarah yang amat bermakna. Lahir dari perjalanan kebaya yang bergerak dinamis sejak abad ke 15 Masehi, kebaya jenis ini merupakan simbol kewanitaan yang universal. Di jawa, kebaya kutu baru disukai wanita dari segala lapisan masyarakat. Bentuknya tidak menciptakan jarak dan kesenjangan sosial. Kekuatan desainnya mampu menyemburkan pesona yang menyatukan perasaan dalam kredo keindahan.

Pesona kebaya kutu baru bertahan sangat lama, menembus abad 18 bahkan hingga era kemerdekaan. Perempuan pedagang di pasar, perempuan terdidik yang sangat intelek, dan perempuan ningrat yang duduk dalam singgasana agung di keraton menyukai potongan kebaya ini. Efek sensualitasnya sangat kuat dan mencirikan citra feminim. Di banyak kesempatan resmi pemerintahan, kaum wanita menggunakan kebaya kutu baru sebagai “seragam” yang paling tepat karena sifatnya yang universal.

Hanya saja, kalangan yang berbeda akhirnya membedakan tampilan kebaya jenis ini. Kaum pedagang dan perempuan-perempuan sederhana mengenakan kebaya kutu baru  dari kain katun sederhana. Perempuan terpelajar dan cukup mapan, mengenakan kebaya kutubaru dari bahan yang lebih baik, seperti sutera dan chiffon. Sementara perempuan ningrat tidak ragu memberi sentuhan mewah berupa bebatuan, benang emas, dan banyak lagi.

Apapun hasil akhirnya, mewah atau bersahaja, kita amat mengagumi kekuatan kebaya kutubaru yang sanggup menundukkan hati setiap perempuan. Bentuknya sangat mudah dimodifikasi, karena memang memiliki lekuk khas yang ‘menantang’ untuk dikreasikan. Lihat saja sebagian kotak persegi di bagian depan dan lipatan kerah yang memanjang.

Bentuk kerah, sistem pengancingan, dan bagian dada sungguh memancing imajinasi tiada tara.

Kebaya couple yang menggunakan sarung atau kain telah menjadi pakaian tradisional kalangan perempuan Indonesia hingga saat ini. Walaupun lebih sering dikenakan pada acara-acara resmi, kebaya ini pun sedikit mengalami perubahan dengan seiring perubahan zaman.

Dari sepotong pakaian tradisional bersama tanda-tanda desain berkerah setali  — istilahnya bersurawe — atau lipatan sampai dada, belahan penutup terhadap anggota wajah baik segera maupun mengfungsikan bef bersama peniti atau kancing, serta berlengan panjang bersama anggota pergelangan tangan melebar atau menyempit, pakaian ini terus menghadapi modernisasi.

Sebutlah nama-nama besar perancang tanah air seperti, Anne Avantie, Biyan, Ramli, Ferry Sunarto, Raden Sirait, Adjie Notonegoro, dan Marga Alam. Mereka adalah para jenius kreatif yang tercuri perhatiannya melaksanakan inovasi kebaya.

Salah satu jenis kebaya yang cukup klasik adalah kebaya bersama bef atau kutubaru. Kutubaru adalah secarik kain yang menghubungkan lipatan kebaya di anggota dada. Kita mengenal lebih dari satu besar ibu negara kami sebagai pengguna kebaya berkutubaru. Mulai berasal dari Ibu Tien Soeharto, Ibu Ani Yudhoyono, terhitung Megawati Sukarnoputri.

Desainer Anne Avantie terkesan bersama kebaya kutubaru yang mewakili kebersahajaan yang memesona. Kebaya kutubaru adalah gagasan pertama yang menggugahnya untuk segera terjun ke dalam dunia rancang kebaya modern.

Bentuknya yang khas, miliki gier/ bef/ kutubaru (lapisan sedang bersifat segi empat di wajah kebaya) menyalakan stimulus kreativitas.

Kebaya kutubaru kebanyakan berkolaborasi bersama korset, long torso, atau kamisol. Dengan kancing pengait yang terbuat berasal dari benang (kutubaru), ciri klasik kebaya ini bagi Anne menyiratkan keanggunan hakiki seorang perempuan.

“Perempuan pedagang di pasar, perempuan terdidik yang terlalu intelek, dan perempuan ningrat yang duduk dalam singgasana agung keraton menyukai potongan kebaya ini,” kata perempuan yang akrab disapa Bunda Anne itu kala ditemui CNN Indonesia di Butik Anne Avantie, Mall Grand Indonesia, Jakarta Pusat (30/8).

Efek sensualitasnya terlalu kuat dan mencirikan citra feminin. Anne mengatakan, di banyak kesempatan formal pemerintahan, kaum perempuan yang mengfungsikan kebaya kutubaru sebagai seragam yang paling tepat gara-gara sifatnya yang universal.

Kebaya merupakan pakaian yang kebanyakan dikenal diseluruh Indonesia, tapi kebaya persis dipakai oleh perempuan-perempuan Jawa. Perempuan Jawa mengenakan kebaya pendek bersama tambahan bahan bersifat persegi panjang di anggota penutup depan (bef/ kutubaru). Berlengan panjang bersama anggota pergelangan tangan tidak terlalu lebar.

 

Pemakaiannya dikombinasikan bersama sebuah batik ber-wiron (berlipat-lipat) yang di tempatkan sedang bersama langkah melilitkan kain selanjutnya memutari badan berasal dari kiri ke kanan.

Sebenarnya asal mula bef adalah berasal dari kemben yang dipakai di dalam kebaya, di mana kebaya dibiarkan terbuka tanpa dikancingkan. Tetapi gara-gara kepraktisan dan nilai estetis maka kemben sudah tidak dipakai kembali digantikan fungsinya bersama bef. Sebagai pelengkapnya kebanyakan digunakan selendang batik.

Busana nasional yang berasal berasal dari desain kebaya Jawa merupakan keterlibatan dominasi serta hegenomi budaya Jawa terhadap dua ratus suku  di Indonesia. Kebaya selanjutnya dikembangkan berasal dari persamaan pola dasar yang miliki hampir lebih dari satu besar pakaian daerah.

Pada zaman kolonial, kain kebaya dapat perlihatkan perbedaan kelas sosial perempuan berasal dari berbagai kalangan. Perempuan Belanda pun mengenakan kebaya bersama motif-motif yang berlainan berasal dari yang dipakai oleh perempuan Jawa.

Kaum ningrat mengenakan batik tulis bersama kebaya berbahan sutra, beludru, atau brokat. Sementara, kalangan biasa mengenakan batik dan kebaya buatan pabrik.

Kebaya dapat membedakan perempuan ke dalam kotak-kotak sosial mereka yang sudah baku. Memberikan indikasi group etnis, pekerjaan dan status sosial berasal dari laki-laki yang jadi papa atau suami mereka.

Setelah Indonesia merdeka, kain kebaya membawa makna dan manifestasi berbeda. Di era revolusi ia merupakan simbol identitas pribumi, maka dalam era Soekarno kala Indonesia sedang membangun, kebaya berkaitan identitas nasional.

Kebaya jadi ciri khas Indonesia sejak dicanangkannya kebaya dan batik sebagai pakaian nasional oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin terhadap 1968. Kebaya terhadap kala itu lebih dititikberatkan terhadap kesan resmi.

Contohbajukebaya.com
hipwee
Pinterest

 

Tinggalkan komentar